Tag

Macam-macam penggunaan lafazh ‘am (umum) :

a.       ‘Am yang tetap dimaksudkan untuk keumumannya, contohnya pada QS Al-Kahfi [18] : 49 :

“Dan tuhanmu tidak menganiaya seorang jua pun.”

Kata “ahadan” tak seorangpun bersifat umum tanpa ada kemungkinan peng khususan.

QS An-Nisa’ [4] : 23 :

“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu.”

Kata “ummhat” ibu-ibumu bersifat umum tanpa ada kemungkinan peng khususan.

b.       ‘Am tetapi yang dimaksudkan adalah khas (khusus)

Contohnya pada QS Ali –Imran [3] : 39 :

“Kemudian malaikat memanggilnya (zakariya), sedang ia tengah berdiri bersembahyang di mihrab.”

Lafazh malaikat pada ayat diatas adalah umum tapi yang dimaksud adalah khusus, yaitu Jibril.

c.       ‘Am yang mendapat peng-khususan

Contohnya QS Ali-Imran [3] : 97 :

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah.”

Ayat itu umum untuk semua manusia, tapi di ayat yang lain ada peng khususan yaitu bagi yang mampu.

Lafazh Khas (khusus) dan Takhsis (pengkhususan)

Khas merupakan kebalikan dari ‘Am, yaitu lafazh yang hanya mengandung satu satuan (juz’iyah) makna.

Takhsis adalah mengeluarkan sebagian kandungan yang dicakup oleh makna lafazh yang umum.

Macam-macam Mukhashshis (peng khusus).

1.       Mukhashshish Muttashil (peng khusus yang bersambung)

a.       Istitsna (pengecualian), contohnya pada QS An-nur [24] : 4-5 :

“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik, kecuali orang-orang yang bertaubat … “

b.       Sifat, contohnya pada QS An-Nisa’ [4] : 23 :

“(Dan diharamkan bagi kamu untuk mengawini) anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu, yaitu istrimu (itu) telah kamu campuri.”

Anak tiri haram dinikahi, yaitu yang ibunya (yang menjadi istri) telah disetubuhi. Bila belum disetubuhi kemudian bercerai, maka anak tiri itu boleh dikawini.

c.       Syarat, contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 180 :

“Diwajibkan atas kamu, apabila seseorang diantara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabat secara ma’ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertaqwa.”

Kalimat “jika ia meninggalkan harta yang banyak” adalah syarat, maka bila seseorang tidak meninggalkan harta yang banyak, maka tidak wajib berwasiat.

d.       Batas, contohnya dalam QS Al-Baqarah [2] : 196 :

“Dan janganlah kamu mencukur kepalamu, sebelum kurban sampai ditempat penyembelihannya.”

Kalimat “sebelum kurban sampai ditempat penyembelihan” merupakan batas larangan mencukur rambut kepala saat haji.

e.       Mengganti sebagian dari keseluruhannya, contohnya pada QS Ali-Imran [3] : 97 :

“Melaksanakan ibadah haji adalah kewajiban manusia yang sanggup mengadakan perjalanan kepadanya.”

2.       Mukhashshish Munfashil , yaitu peng khusus yang berada di tempat lain;

a.       Ayat Al-Qur’an yang lain.

QS Al-Baqarah [2] : 228 :

“Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (ber ‘iddah) tiga kali quru’.”

Ayat tersebut bersifat umum, berlaku bagi setiap wanita yang dicerai, baik yang sedang hamil maupun tidak dan yang telah dicampuri. Kemudian ayat ini ditakhsis oleh dua ayat (mukhashshish) yang lain, yaitu :

QS Ath-Thalaq [65] : 4 :

“Dan perempuan-perempuan yang sedang hamil, waktu ‘iddah mereka adalah sampai mereka melahirkan kandungannya.”

Mukhashshish kedua, QS Al-Ahzab [33] : 49 :

“Apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya, maka sekali-kali tidak wajib atas mereka ‘iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya.”

b.       Hadits (men takhsis Al-Qur’an dengan hadits), contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 275 :

“Dan Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba.”

Dikecualikan dari jual-beli adalah jual-beli yang buruk seperti tersebut pada hadits berikut :

“Dari Ibnu Umar, bahwasanya Rasulullah saw melarang mengambil upah dari persetubuhan binatang jantan dengan binatang yang lain.” (HR Bukhari).

Dalam riwayat lain disebutkan :

“Dari Ibnu Umar, bahwasanya Rasulullah saw melarang jual-beli (binatang) yang akan dikandung oleh yang (sekarang masih) didalam kandungan. Yang demikian itu adalah jual-beli yang dilakukan oleh kaum jahiliyyah, yaitu seseorang membeli binatang sembelihan (dengan bayar tempo) sampai unta itu beranak dan anak onta itu beranak pula.” (HR Muttafaqun ‘alaihi).

c.       Ijma’ (men takhsis Al-qur’an dengan Ijma’).

Contohnya pada QS An-Nisa’ [4] : 11 :

“Allah mensyari’atkan bgimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu, yaitu bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua anak perempuan.”

Ayat tersebut dikecualikan secara ijma’ bagi laki-laki yang berstatus budak.

d.       Qiyas (men takhsis Al-Qur’an dengan Qiyas)

Contohnya QS An-nur [24] : 2 :

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera.”

Ayat tersebut dikecualikan bagi budak dengan dasar analogi terhadap perempuan yang berstatus budak yang dikecualikan dari ketentuan hukum dera bagi perempuan-perempuan yang berbuat fahisyah sebagaimana tersebut dalam QS An-nisa’ [4] : 25 :

“Jika mereka mengerjakan perbuatan keji, maka atas mereka setengah hukuman wanita-wanita merdeka yang bersuami.”

 e.       Akal (men takhsis Al-Qur’an dengan akal)

Contohnya pada QS Ar-Ra’du [13] : 6 :

“Allah adalah pencipta segala sesuatu.”

Akal menetapkan bahwa Allah bukan pencipta bagi diriNya sendiri.

f.         Indera (men takhsis Al-Qur’an dengan indera)

Contohnya : QS An-Naml [27] : 23 :

“Sesungguhnya aku menjumpai seseorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu, serta mempunyai singgasana yang besar.”

Indera kita menetapakan segala sesuatu yang dianugerahkan kepada wanita (Ratu Balqis) tidak seperti yang dianugerahkan kepada Nabi Sulaiman.

 g.  Siyaq (Mentakshis Al-Qur’an dengan siyaq)

Siyaq adalah keterangan yang mendahului suatu kalam dan yang datang sesudahnya.

Contohnya takhsis dengan siyaq adalah seperti pada QS Al-A’raf [7] : 163 :

“Dan  tanyakanlah kepada mereka (Bani Israil) tentang kampung yang terletak di dekat laut …. ?”

Dalam ayat tersebut, dilukiskan bahwa yang dipertanyakan adalah tentang suatu kampung/desa, Menurut siyaqul kalam bahwa yang dimaksud dengan desa itu adalah penduduknya.