Tag

Pertanyaan :

Sesungguhnya pada pengumpulan Al-Qur’an di masa Ustman RA, banyak dari Al-Qur’an yang dihilangkan. Buktinya dia telah membakar begitu banyak mushaf yang berbeda dengan mushafnya.

 Jawaban :

Khalifah Ustman membakar mushaf-mushaf yang berbeda dengan mushafnya karena beberapa sebab berikut :

  1. Mushaf-mushaf ini mengandung kata-kata tafsiran, baik di akhir ayat, di atas maupun di bawahnya, yang nantinya orang akan mengira bahwa itu termasuk Al-Qur’an, padahal sebenarnya hanya tafsiran. Kata-kata tafsiran itupun tidak sama, akan tetapi berbeda-beda sesuai penulisnya.
  2. Mushaf-mushaf mengandung qiraat-qiraat yang tidak benar dan ayat-ayat yang telah dinasakh bacaannya (tulisannya) tetapi masih ada dalam mushaf-mushaf tersebut.
  3. Perbedaan cara-cara pendiktean pada mushaf-mushaf ini. Ini yang ditemukan oleh Ustman. Oleh karena itu dia menyatukan tulisan atas tulisan satu orang, Sa’id bin Ash, hingga seluruh salinan mushaf sama seperti fotokopi untuk satu mushaf yang dikenal dengan mushaf Ustman.

Lebih penting dari itu bahwa tidak satupun dari pemilik mushaf, seperti Ubay bin Ka’ab, Abdullah bin Mas’ud dan Ali bin Abi Thalib yang menolak, bahkan sepakat atas kebenaran apa yang dilakukan oleh Ustman. Proses pembakaran pun dilakukan dihadapan para tokoh sahabat Rasulullah. Hingga, ketika terjadi fitnah setelah tewasnya Ustman, sebagian kelompok Rafidhah mengatakan bahwa Ustman telah membakar semua mushaf. Ali pun berkata kepada mereka, “Takutlah kalian kepada Allah, wahai manusia. Demi Allah, tidaklah Ustman melakukan itu kecuali berdasarkan musyawarah dengan kami, dihadapan kami dan atas persetujuan kami semua. Tidak ada seorangpun dari kami yang menolaknya”.

Kronologis pengumpulan Al-Qur’an pada masa Ustman :

Huzhaifah bin Yaman kaget saat melihat perbedaan manusia dan kefanatikan mereka kepada sebagian qiraat, bahkan sampai membanggakan diri dengan satu qiraat diatas qiraat lain. Di samping itu, karena banyak penaklukan atas sebagian Negara non Arab maka muncul qiraat yang penuh kekeliruan akibat masuknya lisan non arab pada bacaan Al-Qur’an. Artinya muncul lahn (kekeliruan dalam pengucapan) dalam bacaan Al-Qur’an.

Huzhaifah menemui Amirul Mukminin Ustman bin Affan agar segera menyelamatkan umat sebelum bahasa Al-Qur’an lenyap di antara manusia dan terjadi perpecahan seperti perpecahan Ahli Kitab atas kitab mereka.

Akhirnya, dipilihlah sejumlah tokoh sahabat Rasulullah untuk mengumpulkan Al-Qur’an dalam satu mushaf yang menjadi satu-satunya pegangan umat.

Tokoh-tokoh yang dipilih Ustman adalah orang-orang yang hafal lagi mahir Al-Qur’an yang hadir pada pemaparan terakhir di hadapan Rasulullah. Mereka telah membaca Al-Qur’an dihadapan beliau dan beliau mengakui bacaan mereka. Diantara orang-orang yang hafal dan mahir adalah Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa’ad bin Abi Waqqash dan Abdurrahman bin Harist bin Hisyam. Mereka juga merupakan penulis wahyu. Mereka hafal Al-Qur’an langsung mendengar dari mulut Rasulullah. Zaid bin Tsabit sendiri mempunyai andil besar pada masa kekhalifahan Abu Bakar dalam pengumpulan Al-Qur’an yang pertama.

Salinan Al-Qur’an ini, yang dikenal dengan Al-Bakariyah(nisbat kepada Abu Bakar) berada di rumah Ummul Mukminin Hafshah, setelah ditinggalkan oleh Amirul Mukminin Umar bin Khaththab. Salinan tersebut Umar ambil setelah wafatnya Abu Bakar.

Zaid bin Tsabit segera meminta izin kepada Ustman untuk mengambil salinan tersebut sebagai acuan pertama dan inti dalam penetapan qiraat, sebab salinan tersebut ditulis langsung dihadapan Rasulullah. Kemudian dia akan mengembalikannya kepada Hafshah setelah menyalinnya ke dalam beberapa mushaf yang akan dikirim ke beberapa kota Islam.

Penyalinan Al-Qur’an akhirnya selesai dilakukan oleh Sa’id bin Ash dan disebut dengan ar-rasm al-ustmani. Jumlahnya sekitar tujuh buah salinan. Ustman menyimpan satu salinan, sementara sisanya dikirim ke beberapa kota Islam.

Proyek raksasa yang yang mendapat pujian semua sahabat ini terjadi pada tahun ke-25 H, sedangkan pengumpulan Al-Qur’an yang dilakukan oleh Abu Bakar terjadi pada tahun ke-12 H, setelah perang melawan kemurtadan.

Salinan ustmani ini sangat cermat dan akurat, hingga seorang sejarawan orientalis yang bernama Moyer berkata, “Sesungguhnya mushaf yang dikumpulkan oleh Ustman diterima dari tangan ke tangan hingga sampai kepada kita tanpa ada perubahan sedikitpun.” Realita ini mengukuhkan kebenaran ayat yang mulia, “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar akan memeliharanya.” (Al-Hijr[15]:9).

Kisah tentang pembakaran mushaf ini bermula ketika penyebaran Islam bertambah dan para penghafal Al-Quran (Qurra’) tersebar di berbagai wilayah, umat Islam di setiap wilayah itu mempelajari qira’at (bacaan) dari qari yang dikirim kepada mereka. Cara-cara pembacaan (qiraat) Qur’an yang mereka bawakan berbeda-beda sejalan dengan perbedaan qiraat.

Saat mereka berkumpul di suatu pertemuan atau di suatu medan peperangan, sebagian mereka merasa heran dengan adanya perbedaan qiraat ini. Terkadang sebagian mereka merasa puas, karena mengetahui bahwa perbedaan-perbedaan itu semuanya disandarkan kepada Rasulullah. Tetapi keadaan demikian bukan berarti tidak akan menyusupkan keraguan kepada generasi baru yang tidak melihat Rasulullah sehingga terjadi pembicaraan bacaan mana yang baku dan mana yang lebih baku. Dan pada gilirannya akan menimbulkan pertentangan bila terus tersiar. Bahkan akan menimbulkan permusuhan dan perbuatan dosa. Fitnah yang demikian ini harus segera diselesaikan.

Ketika terjadi perang Armenia dan Azarbaijan dengan penduduk Iraq, diantara orang yang ikut menyerbu kedua tempat itu ialah Huzaifah bin al-Yaman. Ia banyak melihat perbedaan dalam cara-cara membaca Quran. Sebagian bacaan itu bercampur dengan kesalahan, tetapi masing-masing memepertahankan dan berpegang pada bacaannya, serta menentang setiap orang yang menyalahkan bacaannya bahkan terkandang sampai saling mengkafirkan.

Melihat kenyataan demikian Huzaifah ra segara menghadap Khalifah Usman ra dan melaporkan kepadanya apa yang telah dilihatnya. Khalifah Usman ra juga memberitahukan Huzaifah bahwa sebagian perbedaan itu pun akan terjadi pada orang-orang yang mengajarkan Qiraat pada anak-anak. Anak-anak itu akan tumbuh, sedang di antara mereka terdapat perbedaan dalam qiraat. Para sahabat amat memprihatinkan kenyataan ini karena takut kalau-kalau perbedaan itu akan menimbulkan penyimpangan dan perubahan. Mereka bersepakat untuk menyalin lembaran-lembaran yang pertama yang ada pada Abu Bakar dan menyatukan umat Islam pada lembaran-lembaran itu dengan bacaan tetap pada satu huruf.

Khalifah Usman ra kemudian mengirimkan utusan kepada Hafsah (untuk meminjamkan mushaf Abu Bakar yang ada padanya) dan Hafsah pun mengirimkan lembaran-lembaran itu kepadanya. Kemudian Khalifah Usman ra memanggil Zaid bin Tsabit ra, Abdullah bin Az-Zubair ra, Said bin ‘Ash ra dan Abdurrahman bin Haris bin Hisyam ra, lalu beliau memerintahkan mereka agar menyalin dan memperbanyak mushaf serta memerintahkan pula bila ada perbedaan diantara mereka, yang dijadikan acuan adalah logat quraisy karena Qur’an turun dengan logat mereka.

Mereka melakukan perintah itu. Setelah mereka selesai menyalinnya menjadi beberapa mushaf, Khalifah Usman ra mengembalikan lembaran-lembaran asli itu kepada Hafsah. Kemudian Usman mengirimkan ke setiap wilayah Islam mushaf baru tersebut dan memerintahkan agar semua mushaf lainnya dibakar.

Apa yang dilakukan Khalifah Usman ra itu telah disepakati oleh para sahabat. Mushaf-mushaf itu ditulis dengan satu huruf (dialek) dari tujuh huruf Qur’an seperti yang diturunkan agar orang bersatu dalam satu qiraat. Dan Usman telah mengembalikan lembaran-lembaran yang asli kepada Hafsah, lalu dikirimkannya pula pada setiap wilayah yaitu masing-masing satu mushaf. Dan ditahannya satu mushaf untuk di Madinah, yaitu mushafnya sendiri yang dikenal dengan nama ‘mushaf Imam’.

Ibn Jarir mengatakan berkenaan dengan apa yang telah dilakukan oleh Khalifah Usman ra, “Beliau menyatukan umat Islam dengan satu mushaf dan satu huruf, sedang mushaf yang lain disobek. Ia memerintahkan dengan tegas agar setiap orang yang mempunyai mushaf ‘berlainan’ dengan mushaf yang disepakati itu membakar mushaf tersebut. Umat Islam pun mendukungnya dengan taat dan mereka melihat bahwa dengan bagitu Usman telah bertindak sesuai dengan petunjuk dan sangat bijaksana. Meka umat meninggalkan qiraat dengan enam huruf lainnya. Sesuai dengn permintaan pemimpinnya yang adil itu; sebagai bukti ketaatan umat kepadanya dan karena pertimbangan demi kebaikan mereka dan generasi sesudahnya. Dengan demikian segala qiraat yang lain sudah dimusnahkan dan bekas-bekasnya juga sudah tidak ada. Sekarang sudah tidak ada jalan bagi orang yang ingin membaca dengan ketujuh huruf itu dan kaum muslimin juga telah menolak qiraat dengan huruf-huruf yang lain tanpa mengingkari kebenarannya atau sebagian dari padanya.tetapi hal itu bagi kebaikan kaum muslimin itu sendiri. Dan sekarang tidak ada lagi qiraat bagi kaum muslimin selain qiraat dengan satu huruf yang telah dipilih olah imam mereka yang bijaksana dan tulus hati itu. Tidak ada lagi qiraat dengan enam huruf lainya.

Apa bila sebagian orang lemah pengetahuan berkata : Bagaimana mereka boleh meninggalkan qiraat yang telah dibacakan oleh Rasulullah dan diperintahkan pula membaca dengan cara itu ? maka jawabnya ialah :

Sesungguhnya perintah Rasulullah kepada mereka untuk membacanya itu bukanlah perintah yang menunjukkan wajib dan fardu, tetapi menunjukkan kebolehan dan keringanan (rukshah). Sebab andaikata qiraat dengan tujuh huruf itu diwajibkan kepada mereka, tentulah pengetahuan tentang setiap huruf dari ketujuh huruf itu wajibpula bagi orang yang mempunyai hujjah untuk menyampaikannya, beritanya harus pasti dan keraguan harus dihilangkan dari para qari. Dan karena mereka tidak menyampaikan hal tersebut, maka ini merupakan bukti bahwa dalam masalah qiraat mereka boleh memilih, sesudah adanya orang yang menyampaikan Qur’an dikalangan umat yang penyampaiannya menjadi hujjah bagi sebagian ketujuh huruf itu.

Jika memang demikian halnya maka mereka tidak dipandang telah meninggalkan tugas menyampaikan semua qiraat yang tujuh tersebut, yang menjadi kewajiban bagi mereka untuk menyampaikannya. Kewajiban mereka ialah apa yang sudah mereka kerjakan itu. Karena apa yang telah mereka lakukan tersebut ternyata sangat berguna bagi islam dan kaum muslimin. Oleh karena itu menjalankan apa yang menjadi kewajiban mereka sendiri lebih utama dari pada melakukan sesuatu yang malah akan lebih merupakan bencana terhadap islam dan pemeluknya dari pada menyelamatkannya.

Wallahu A’lam Bish-Showab,