Tag

Kandungan Tauhid:
(-). Hikmah diciptakan jin dan manusia (alam semesta) oleh Allah.
(-). Ibadah adalah hakekat Tauhid, karena karena pertentangan yang terjadi [antara rasullah Saw dengan kaum musyrikin] dalam masalah tauhid ini.
(-). Barang siapa yang belum melaksanakan Tauhid ini, belumlah ia beribadah (menghamba) kepada Allah.
Disini letak pengertian firman Allah SWT.
“Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah”.
(Al-Kafirun:3)
(-). Hikmah diutusnya para rasul,[ialah: untuk menyerukan tauhid dan melarang syirik].
(-). Pengutusan Rosul telah mencakup seluruh umat.
(-). Bahwa ajaran/tuntunan para nabi adalah satu [yaitu: tauhid (pemurnian ibadah kepada Allah).
(-). Masalah besar, yaitu: bahwa ibadah kepada Allah tidak akan dapat terwujud dengan sebenar-benarnya kecuali dengan mengingkari Thaghut.
Dan Pengertian Allah Swt:
“Barang siapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat.”
(Al-Baqoroh:256)
(-). Pengertian thaghut bersifat umum, meliputi setiap yang diagungkan selain Allah.
(-). Ketiga ayat muhkamat yang tersebut dalam surah Al-An’am mnurut kaum Salaf, mempunyai kedudukan yang penting karena terkandung didalamnya sepuluh masalah, yang pertama adalah larangan terhadap perbuatan syirik.
(-) Ayat-ayat muhkamat yang tersebut dalam surah Al-Isra’, mengandung delapan belas masalah dimulai dengan firman Allah:
“Janganlah kamu adakan tuhan yang lain di samping Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah).”
(Al-Isra:22)
Dan diakhiri dengan firmanNYA:
“Dan janganlah kamu mengadakan tuhanyang lain disamping Allah, yang menyebabkan kamu dilempar ke dalam Neraka dalan keadaan tercela lagi dijauhkan (dari rahmat Allah).
(Al-Isra’:39)
Serta Allah mengingatkan kepada kita akan pentingnya masalah-masalah ini dengan firmanNYA:
“itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhan kepadamu”.
(Al-Isra’:39).
(-) Ayat dalam surah An-Nisa’, disebutkan didalamnya sepuluh hak, yang pertama yaitu sebagai mana firman Allah SWT:
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan dengan sesuatupun.”
(An-Nisa’:36).
(-). Perlu diingat wasiat Rasulloh Saw disaat akhir hayat beliau.
(-). Mengetahui hak Allah yang wajib kita laksanakan.
(-). Mengetahui hak para hamba Allah yang pasti akan dipenuhiNYa, apabila mereka melaksanakan hakNYA terhadap mereka.
(-). bahwa masalah ini tidak diketahui oleh sebagian besar sahabat.
(*)
(-). Boleh merahasiakan ilmu pengetahuan masalah ini untuk maslahat.
(-). Dianjurkan untuk menyampaikan kepada sesama muslim suatu berita menyampaikan kepada sesama muslim suatu berita yang menggembirakannya.
(-). Rosullah Saw merasa khawatir terhadap sikap menyadarkan diri kepada keluasan rahmat Allah.
(-) Jawaban orang yang ditanya sedangkan dia tidak tahu, adalah
“Allahu wa Rasuluhu A’lam” (Allah dan RosullohNYA lebih mengetahui)
(-). Boleh menyampaikan ilmu kepada orang-orang tertentu tanpa yang lain.
(-). Kerendahan hati Rasullah Saw karena ketika menunggang keledai, beliau mau memboncengkan orang lain dibelakangnya.
(-). Boleh memboncengkan seseorang diatas binatang, jika binatang itu kuat.
(-). Keutamaan Mu’adz bin Jabal.
(-). Bahwa Tauhid mempunyai kedudukan yang sangat mendasar.
(*) Tidak diketahui oleh sebagian besar para sahabat, karena Rasullah menyuruh Mu’adz agar tidak memberitahukannya kepada mereka, dengan alasan beliau khawatir kalau mereka nanti akan bersikap menyadarkan diri kepada keluasan rahmat Allah sehingga tidak mau berlomba-lomba dalam mengerjakan amal soleh.
Maka Mu’adzpun tidak memberitahukan masalah tersebut kecuali di akhir hayatnya dengan rasa berdosa.
Oleh sebab itu, dimasa hidup Mu’adz masalah ini tidak diketahui kebanyakan sahabat.